Di sebuah taman ada seorang tukang kebun yang sangat telaten.
Suatu hari, datanglah seekor burung kecil yang terluka. Sayapnya lemah, ia hampir tak mampu terbang.
Tukang kebun itu merawatnya.
Ia memberi makan.
Ia melindunginya dari hujan.
Ia mengobati lukanya.
Hari demi hari berlalu. Sayap burung itu mulai kuat. Bahkan jauh lebih indah daripada saat pertama datang.
Burung itu belajar bernyanyi lagi.
Belajar terbang lagi.
Belajar melihat dunia lagi.
Burung itu sangat berterima kasih.
Setiap hari ia kembali ke taman itu.
Ia menemani tukang kebun.
Ia membuat taman terasa hidup.
Mereka sama-sama bahagia.
Suatu hari, burung itu melihat langit yang sangat luas.
Ia berkata pelan,
“Aku ingin membuat sarangku sendiri.”
Tukang kebun tersenyum.
Namun senyum itu hanya sebentar.
“Kenapa?” tanyanya.
“Di sini bukankah semuanya sudah ada?”
Burung itu mengangguk.
“Ada.”
“Lalu kenapa masih ingin pergi?”
Burung itu menunduk.
“Karena memang begitulah hidup seekor burung.”
Sejak hari itu, setiap kali burung melihat ke langit, tukang kebun mulai gelisah.
Ia berkata,
“Di luar banyak badai.”
Burung mengangguk.
“Aku tahu.”
“Di luar banyak pemburu.”
“Aku tahu.”
“Belum tentu ada pohon yang lebih baik.”
“Aku tahu.”
“Belum tentu ada yang akan menyayangimu.”
“Aku tahu.”
Setiap jawaban burung selalu sama.
“Aku tahu.”
Bukan karena ia tidak menghargai taman itu.
Tetapi karena langit memang diciptakan untuk diterbangi.
Lama-kelamaan tukang kebun mulai berkata,
“Kalau kamu pergi, semua yang kulakukan dulu jadi sia-sia.”
Burung menangis.
Ia tidak pernah menganggap semua itu sia-sia.
Justru karena rasa terima kasihnya, ia bertahan jauh lebih lama daripada yang seharusnya.
Suatu hari tukang kebun berkata lagi,
“Aku sudah memberimu sayap.”
Burung tersenyum sedih.
“Benar.”
“Lalu kenapa sekarang sayap itu justru ingin menjauh dariku?”
Burung diam sangat lama.
Lalu menjawab,
“Mungkin… karena sayap memang dibuat untuk terbang.”
“Bukan untuk membalas budi seumur hidup.”
Tukang kebun marah.
Ia mulai mengingatkan semua jasanya.
Semua hari ketika ia merawat.
Semua waktu yang ia korbankan.
Semua kebaikan yang pernah ia berikan.
Tak satu pun salah.
Semuanya benar.
Tetapi ada satu hal yang ia lupa.
Kebaikan yang terus dihitung sebagai alasan agar seseorang tetap tinggal…
perlahan berhenti terasa sebagai hadiah.
Ia berubah menjadi utang yang tidak pernah lunas.
Burung itu tetap kembali ke taman.
Masih bernyanyi.
Masih menemani.
Masih bersyukur.
Tetapi setiap kali ia memandang langit, matanya semakin sayu.
Bukan karena ia tidak mencintai taman itu.
Melainkan karena ia mulai takut bermimpi.
Suatu hari, angin bertanya kepada tukang kebun,
“Kalau kau benar-benar mencintai burung itu, apa yang paling kauinginkan?”
Tukang kebun menjawab,
“Aku ingin ia tetap di sini.”
Angin bertanya lagi,
“Walaupun setiap hari ia semakin kehilangan dirinya?”
Tukang kebun tidak menjawab.
Angin lalu berbisik pelan,
“Mungkin yang paling sulit dalam mencintai bukan merawat ketika seseorang terluka.”
“Itu banyak orang bisa.”
“Yang paling sulit adalah ikut bahagia ketika seseorang sudah cukup kuat untuk menjalani hidupnya sendiri.”
“Karena saat itu…”
“…kita harus memilih.”
“Apakah kita benar-benar mencintainya…”
“…atau kita hanya takut kehilangannya.”
Burung itu masih memandang langit.
Tukang kebun masih memandang burung itu.
Dan taman tetap indah.
Hanya saja…
indah tidak selalu berarti seseorang boleh tinggal di sana selamanya.
Sebab ada cinta yang membangun sayap.
Dan ada cinta yang, karena terlalu takut kehilangan, tanpa sadar mulai memotong bulu-bulunya satu per satu agar burung itu tidak pernah benar-benar terbang.
Angin hendak pergi.
Sebelum menghilang, ia menoleh sekali lagi kepada tukang kebun.
“Kalau suatu hari burung itu benar-benar terbang…”
“…apa yang akan kauingat?”
“Bahwa ia meninggalkanmu…”
“…atau bahwa kau pernah menjadi alasan ia berani mengepakkan sayapnya?”
Tukang kebun tidak menjawab.
Ia hanya memandangi burung itu.
Untuk pertama kalinya…
ia tidak melihat seekor burung yang takut pergi.
Ia melihat seekor burung yang selama ini terlalu takut menyakiti dirinya.
Barulah ia mengerti.
Selama ini ia terus meminta burung itu membuktikan cintanya dengan tetap tinggal.
Padahal mungkin…
cinta yang paling tulus bukanlah meminta seseorang terus menetap.
Melainkan memastikan bahwa ketika ia memilih jalan hidupnya sendiri, ia tetap bisa terbang tanpa rasa bersalah.
Kalau suatu hari nanti kau menjadi tukang kebun…
dan burung yang pernah kaurawat telah cukup kuat untuk terbang…
apa yang akan kau lakukan?
Menutup pintu sangkar…
atau membuka gerbang taman?
Jawabannya…
mungkin akan menunjukkan apakah yang kau jaga selama ini adalah burungnya…
atau rasa takutmu sendiri.



